Resesi global yang diperkirakan terjadi pada tahun 2025 menimbulkan kekhawatiran terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. Meskipun demikian, berbagai indikator menunjukkan bahwa Indonesia memiliki ketahanan ekonomi yang cukup kuat untuk menghadapi tantangan tersebut.

Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi

Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global pada tahun 2025 akan stagnan di angka 3,2%, sedikit meningkat dari proyeksi tahun 2024 yang sebesar 3,1%. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan mencapai 5,2% pada tahun 2025, didorong oleh konsumsi swasta yang kuat, investasi yang meningkat, dan ekspor yang stabil.

Dampak Resesi Global terhadap Indonesia

Resesi global dapat mempengaruhi perekonomian Indonesia melalui beberapa saluran:

  1. Perdagangan Internasional: Pelemahan ekonomi global berpotensi menurunkan permintaan terhadap ekspor Indonesia, terutama komoditas utama seperti batu bara, minyak sawit, dan karet. Penurunan ekspor dapat berdampak pada surplus neraca perdagangan yang selama ini menjadi penopang stabilitas ekonomi.

  2. Nilai Tukar Rupiah: Tekanan terhadap rupiah dapat meningkatkan biaya impor, termasuk bahan baku dan energi. Hal ini dapat menghambat pertumbuhan sektor industri dan meningkatkan tekanan inflasi domestik.

  3. Investasi Asing: Ketidakpastian ekonomi global dapat menyebabkan aliran modal asing keluar dari pasar domestik, mengurangi investasi langsung dan portofolio yang penting bagi pembiayaan pembangunan.

Tindakan Pemerintah dan Otoritas Moneter

Untuk mengantisipasi dampak resesi global, pemerintah dan Bank Indonesia telah mengambil langkah-langkah strategis:

  • Stabilisasi Nilai Tukar: Bank Indonesia aktif melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk menjaga stabilitas rupiah. Selain itu, suku bunga acuan dipertahankan pada level 6,00% guna mendukung nilai tukar dan mengendalikan inflasi.

  • Kebijakan Fiskal yang Prudent: Pemerintah berkomitmen menjaga defisit fiskal dalam batas aman, dengan tetap mendorong belanja yang efektif untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Program-program seperti pemberian insentif bagi industri padat karya dan deregulasi sektor manufaktur diimplementasikan untuk meningkatkan daya saing.

  • Penguatan Sektor Riil: Upaya diversifikasi ekonomi melalui hilirisasi industri dan pengembangan sektor ekonomi hijau terus dilakukan untuk meningkatkan nilai tambah dan menciptakan lapangan kerja.

Tantangan dan Peluang

Meskipun terdapat tantangan eksternal, Indonesia memiliki beberapa keunggulan yang dapat dimanfaatkan:

  • Pasar Domestik yang Besar: Konsumsi domestik yang kuat menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi, memberikan buffer terhadap penurunan permintaan eksternal.

  • Stabilitas Makroekonomi: Inflasi yang terkendali dan defisit anggaran yang terjaga menunjukkan fundamental ekonomi yang sehat.

  • Reformasi Struktural: Berbagai reformasi di bidang regulasi dan birokrasi meningkatkan iklim investasi dan kemudahan berusaha, menarik minat investor domestik dan asing.

Kesimpulan

Resesi global pada tahun 2025 memang menimbulkan risiko bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Namun, dengan langkah-langkah strategis yang telah diambil oleh pemerintah dan otoritas moneter, serta didukung oleh fundamental ekonomi yang kuat, Indonesia diharapkan mampu menghadapi tantangan tersebut dan mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.​